Nekat “Serbu” New Delhi dengan Traktor, Ini Penjelasan Aksi Protes Petani India

Para petani yang memprotes bergerak menuju Benteng Merah yang bersejarah setelah melanggar barikade polisi selama perayaan Hari Republik India di New Delhi, India, Selasa, 26 Januari 2021. Puluhan ribu petani mengemudikan konvoi traktor ke ibu kota India saat negara itu merayakan Hari Republik.
Para petani yang memprotes bergerak menuju Benteng Merah yang bersejarah setelah melanggar barikade polisi selama perayaan Hari Republik India di New Delhi, India, Selasa, 26 Januari 2021. Puluhan ribu petani mengemudikan konvoi traktor ke ibu kota India saat negara itu merayakan Hari Republik.(AP/ALTAF QADRI)

Penulis Danur Lambang Pristiandaru | Editor Danur Lambang Pristiandaru

NEW DELHI, KOMPAS.com – Para petani India selama berbulan-bulan berkemah di pinggiran New Delhi sebagai protes terhadap undang-undang pertanian yang baru.

Pada Selasa (26/1/2021), ribuan orang menyerbu New Delhi dengan mengendarai traktor sehingga membentuk antrean panjang ke ibu kota India itu.

Mereka menerobos barikade polisi, menerjang gas air mata, dan menyerbu Benteng Merah bersejarah saat negara itu merayakan Hari Republik.

AFP merangkum permasalahan di sektor pertanian di India dan tantangan Perdana Menteri India Narendra Modi sejak berkuasa pada 2014.

Bagaimana keadaan pertanian India?

Sektor pertanian India sangat luas dan di sisi lain dinilai bermasalah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Pertanian menyediakan mata pencaharian bagi hampir 70 persen dari 1,3 miliar rakyat India dan menyumbang sekitar 15 persen dari perekonomian India.

“Revolusi Hijau” yang dicanangkan pada dekade 1970-an mengubah India dari negara yang sering kekurangan pangan menjadi negara yang surplus bahan pangan, bahkan menjadi eksportir.

Tetapi selama beberapa dekade terakhir, pendapatan dari sektor pertanian sebagian besar mengamali stagnasi dan sektor ini sangat membutuhkan investasi dan modernisasi.

Lebih dari 85 persen petani memiliki lahan kurang dari dua hektare.

Kurang dari satu dari seratus petani memiliki lebih dari 10 hektare, menurut survei Kementerian Pertanian India pada 2015 hingga 2016.

Apa saja kendala petani?

Kekurangan air, banjir, cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim, serta utang, telah sangat merugikan petani.

Lebih dari 300.000 petani telah bunuh diri sejak dekade 1990-an. Hampir 10.300 melakukannya pada 2019, menurut angka resmi terbaru.

Petani dan pekerjanya juga mulai berbondong-bondong meninggalkan dunia pertanian.

Apa yang dijanjikan Modi?

Pemerintah India telah lama memberikan janji besar kepada para petani yang merupakan lumbung suara penting di India.

Modi tak terkecuali. Dalam kampanyenya, dia berjanji untuk menggandakan pendapatan para petani pada 2022.

Pada September 2020, parlemen India mengesahkan tiga undang-undang yang memungkinkan petani menjual kepada pembeli mana pun yang mereka pilih, daripada meminta agen di pasar yang dikendalikan negara.

Pasar yang dikendalikan negara didirikan pada 1950-an untuk menghentikan eksploitasi petani dan membayar harga dukungan minimum (MSP) untuk produk tertentu.

Sistem tersebut telah menyebabkan para petani terkadang menanam tanaman yang tidak sesuai dengan iklim setempat, seperti di Punjab, dan dapat menjadi lahan subur untuk korupsi.

Tetapi banyak petani melihat MSP sebagai jaring pengaman yang vital.

Dengan adanya undang-udang yang baru tersebut, mereka takut tidak dapat bersaing dengan hasil dari pertanian besar dan dibayar murah oleh perusahaan besar.

Apa yang bisa Modi lakukan?

Modi telah menarik perhatian sebelumnya, namun popularitasnya bertahan dan kembali memenangi pemilihan umum secara besar-besaran pada 2019.

Sejak akhir 2019, aksi protes terhadap undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial berlangsung selama berbulan-bulan.

Aksi tersebut mencapai puncak kerusuhan sektarian di Delhi pada Februari 2020 yang menewaskan lebih dari 50 orang.

Menggambarkan para petani sebagai “anti-nasional”, seperti yang terjadi dengan para pengunjuk rasa pada 2019, bisa menjadi bumerang.

Mengabaikan tuntutan mereka juga berbenturan dengan citra Modi sebagai penyelamat kaum miskin.

Bagaimana dengan para petani?

Kini, Modi memiliki musuh yang tangguh di antara para petani yang terorganisir dengan baik yang telah berkemah di luar New Delhi sejak akhir November 2020 meskipun malam musim dingin yang dinginnya menusuk tulang.

Di sana, mereka telah mendirikan sekolah untuk anak-anak, surat kabar mereka sendiri, tim media sosial, dapur makanan, layanan medis, dan bahkan mesin pijat untuk raga yang lelah.

Namun, kerusuhan yang pecah pada Selasa merupakan kelengahan petani.

Pasalnya, mereka telah berjanji kepada polisi bahwa aksi pengerahan traktor akan tetap pada rute yang telah disepakati dan menjauhkan diri dari kekerasan.

“Saat ini para petani mundur karena peristiwa yang terjadi kemarin (Selasa),” kata Parsa Venkateshwar Rao, seorang analis politik yang berbasis di Delhi.

“Pemerintah mungkin ingin mengambil keuntungan dari situasi ini dan mendorong kembali para petani dengan berbagai cara. Dalam hal persepsi publik, kekerasan telah merugikan tujuan mereka,” sambungnya.

Source: Nekat “Serbu” New Delhi dengan Traktor, Ini Penjelasan Aksi Protes Petani India Halaman all – Kompas.com

  • 1,338